Sejarah pun mencatat nama-nama menusia yang mengaku menjadi nabi Palsu, di antaranya ialah Musailamah al Kadzdzab, Aswad Al-‘Ansiy, Tulaihah Al-Asadi, Sajjah binti Al-Harith, Ahmad bin Husain, Laqit, Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Ali Muhammad, Bahaullah, Al-Mukhtar bin Ubaidillah, Ibnu Sam’an, Amir bin Harb, Abu Mansur Al-Ijli, Ibnu Said As-Sajli, Abu Khattab Al-Asadi, Ibnu Bahram Al-Juba’i, Hasan bin Hamdan, Abul Qasim An-Najar, Al-Muni’ul Qashar, Ibnu Kharba Al-Kindi, Abu Muslim As-Siraj dan lain-lain (siapa lagi ya… tapi paling enak tu pake dan lain-lain, dan kawan-kawan, dan semisalnya, dll). He..he..he… Soalnya mau nyebut yang di Indonesia, takut salah sebut lagi… banyak yang sama nama sih….
Berikut ini sekilas tentang beberapa orang yang mendakwakan diri sebagai nabi itu:
Musailamah al-Kadzdzab, nama asli Musailamah adalah Harun bin Habib al-Hanafiy. Dia adalah kepala suku Yamamah. Pada tahun ke-10 Hijriyah, dia bersama rombongannya sebagai utusan dari Bani Hanifah datang menghadap Rasulullah sas di Madinah dan memeluk Islam. Namun sekembalinya dari Madinah dia berbalik menjadi kafir, murtad. Dia mendakwakan diri sebagai Nabi.
Musailamah mengirim surat yang dibawa oleh dua orang utusannya kepada Rasulullah sas. Isi suratnya sebagai berikut, “Dari Musailamah utusan Allah kepada Muhammad utusan Allah. Kesejahteraan semoga dilimpahkan atasmu. Aku telah bersekutu dalam urusan kenabian ini denganmu dan bagi kami separuh tanah dan bagi Quraisy separuh tanah, tetapi kaum Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.”
Rasulullah sas membalas surat Musailamah. Surat beliau berbunyi,
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Musailamah si pendusta. Kesejahteraan semoga dilimpahkan atas orang yang mengikut petunjuk yang benar. Bahwasanya bumi itu milik Allah, akan diwariskan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dari sekalian hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.”
Meskipun Rasulullah sas telah menyatakan Musailamah sebagai pendusta, dia tetap mendakwakan diri sebagai utusan Allah. Bahkan, dia mengaku telah menerima wahyu. Puluhan ayat palsu disampaikannya kepada para pengikutnya. Masih ingat surat kodok yang dibikin Musailamah?
Musailamah berhasil mendapat banyak pengikut dari kabilah-kabilah yang berdekatan dengan Yamamah. Akhirnya, dia dapat dibunuh dalam pertempuran Yamamah yang dahsyat itu. Musailamah dibunuh dengan tombak oleh Wahsyi, seorang budak dari Habasyah yang ketika masih kafir berhasil membunuh Hamzah bin ‘Abdul Muththallib dalam perang Uhud.
Harits bin Sa’ad, dia mendakwa menjadi nabi di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Daulah Bani Umaiyyah. Banyak orang yang dapat dipengaruhi dan menjadi pengikutnya. Tapi akhirnya dia dibunuh bersama pengikut-pengikutnya.
Isa Al-Asfahan, dia mendakwa dirinya diangkat menjadi nabi di masa Khalifah Al-Mansur dari Daulat Bani Abbasiah . Akhirnya dia dihukum bunuh.
Faris bin Yahya, dia mendakwa dirinya menjadi nabi di masa pemerintahan Khalifah Al-Mu’taz di Mesir. Faris mengaku sebagai Nabi Isa dan mendakwa dapat menyembuhkan penyakit belang, orang buta, penyakit kusta dan menghidupkan orang mati.
Ishak Al-Akhras, dia mengaku sebagai nabi di Asfahan (Iran). Dia pandai membaca kitab Taurat, Injil dan pandai menafsirkan Al-Quran sesuka hatinya. Di antara ajarannya ialah barangsiapa yang beriman kepada Allah, beriman kepada Nabi Muhammad dan beriman kepadanya, dialah orang-orang yang mendapat kemenangan. Kerana kepandaiannya bertutur kata, banyak orang yang dapat dipengaruhinya dan menjadi pengikutnya. Ishak pada akhirnya dapat dihukum bunuh.
Aswad al-’Ansiy, nama Aswad al-’Ansiy sebenarnya adalah Abhalah bin Ka’ab al-’Ansiy, sebagian mengatakan dia adalah Ailah bin Ka’ab bin Auff Al-Insiy. Dia adalah keturunan bangsa hitam Habasyah dan menjadi kepala Bani Madzhij di daerah Yaman. Dia seorang tukang tenung (santet), tukang sihir, dan seorang yang kaya raya di Shan’a. Dia sangat berpengaruh di kalangan kaumnya dan banyak yang terpikat kepadanya karena kelebihannya. Banyak orang yang kagum kepadanya karena menyaksikan sihirnya yang menakjubkan. Pada akhir tahun ke-10 Hijriyah, masa sakitnya Nabi sas menjadi berat, Aswad telah memproklamirkan diri sebagai nabi yang ditunjuk oleh Allah. Menurut pengakuannya dia didampingi oleh dua malaikat yang memberitahukan kepadanya apa saja yang telah dan akan terjadi. Kedua malaikat itu bernama Suhaiq dan Syuqaiq. Sebenarnyalah kedua makhluk yang mendampingi Aswad adalah syaithon yang biasa mendampingi tukang sihir dan tukang tenung. Setelah Aswad mendakwakan diri sebagai nabi, dia mendapat pengikut yang tidak sedikit. Dalam waktu singkat, dia telah menaklukkan beberapa suku yang berdekatan dengan kabilahnya. Akhirnya, dia dapat merebut kerajaan yang berada di bawah pemerintahan Syahar bin Bazan, gubernur yang diangkat oleh Rasulullah sas di bawah pemerintahan Islam Madinah, yang berkedudukan di Shan’a.
Setelah mendengar berita bahwa ibu kota negeri Yaman telah ditaklukkan oleh Aswad al-’Ansiy dan janda Syahar yang muslimah dipaksa menjadi gundik Aswad, Rasulullah sas mengirim surat kepada Mu’adz bin Jabal, yang mengemban amanat dakwah di Yaman. Pesan Rasulullah sas adalah sebagai berikut:
-Mu’adz dan kaum muslimin di bawah kepemimpinannya mestilah tetap berpegang teguh kepada ajaran Islam, dan jangan sampai tertipu atau terpengaruh oleh Aswad.
-Kaum muslimin yang berada di Yaman harus bertindak tegas terhadap Aswad dengan cara memerangi dan merebut kembali daerah-daerah yang sudah dikuasainya.
Semua pesan Rasulullah sas diperhatikan benar oleh kaum muslimin Yaman. Mereka berusaha untuk membinasakan Aswad dengan keyakinan, bila Aswad dapat dibunuh, para pengikutnya tentu akan bubar.
Aswad berhasil dibunuh oleh Fairuz ad-Daylamiy di dalam istananya sendiri saat dia mabuk. Fairuz dapat membunuh Aswad atas bantuan Marzabanah, janda gubernur Syahar yang dipaksa menjadi gundik Aswad. Fairuz memenggal leher Aswad dan tamatlah riwayatnya. Terjadinya pada tahun 11 H/632M yaitu di saat-saat menjelang wafatnya Rasulullah sas.
Mirza Ghulam Ahmad, lahir di Qadiyan, Punjab, India, pada tahun 1835. Mula-mula Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai mujaddid (pembaharu) dan pengikut Nabi Muhammad sas. Namun dia juga mengaku menerima wahyu. Menurutnya, kedudukannya tidak sama dengan kedudukan Nabi Muhammad saw karena Rasulullah saw adalah Nabi terakhir dan tidak ada nabi lain setelahnya yang membawa syariat. Tetapi tidak menutup kemungkinan, Allah mengutus lagi nabi yang tidak membawa syariat. Dia adalah salah seorang dari nabi-nabi yang tidak membawa syariat itu.
Mirza menerbitkan majalah Al-Adyan sebagai sarana mengembangkan ajaran dan pemikirannya. Dan juga buku-buku yang menjelaskan secara rinci semua pemikiran dan ideologinya. Diantara bukunya adalah: Barahinul Ahmadiyah, Anwarul Islam, Nurul Haqq, Haqiqotul Wahyu, Tuhfatun Nadwah, Syahadatul Qur’an, dan Tabligh Risalat.
Mirza Ghulam Ahmad berkata, “Nabi yang terakhir dan tunduk kepada Rasulullah sas tidak pernah menyatakan bahwa dirinya adalah nabi atau rasul dalam pengertian yang sebenarnya. Allah memanggilku dengan sebutan nabi hanya berdasarkan isti’arah (kiasan) saja. Kenabianku merupakan pancaran dari kenabian Muhammad sas. Sebuah bayangan tidaklah memiliki wujud tersendiri atau wujud yang sebenarnya.”
Dia juga berkata, “Aku telah menyebutkan berkali-kali bahwa apa yang aku baca merupakan firman Allah seperti halnya al-Quran dan Taurat. Aku adalah salah seorang nabi bayangan yang diutus oleh Allah. Setiap muslim wajib taat kepadaku dan wajib mengimani bahwa aku adalah al-masih yang dijanjikan akan datang. Karena itu, barangsiapa yang telah mengetahui dakwahku, tetapi dia tidak beriman kepadaku, maka sikapnya itu akan dihisab di akhirat, meskipun dia telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”
Dia juga berkata, “Al-Quran dan Nabi Muhammad sas telah bersaksi atas kenabianku. Para nabi pun telah menentukan zaman kenabianku, yaitu zaman sekarang ini. Al-Quran juga telah menentukan zaman kenabianku itu. Langit dan bumi juga bersaksi atas kenabianku. Dan tidak seorang nabi pun kecuali ia bersaksi kepadaku.” Lalu dia membaca firman Allah,
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي
رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ
وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ
بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
“…dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang
Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” (QS. Ash-Shaff: 6)Sebenarnya munculnya Ahmadiyah ini ada hubungan dengan kolonialisme Inggris. Ajaran Ahmadiyah sangat menguntungkan pemerintah kolonial sehingga Mirza mendapatkan fasilitas dan bantuan dari Inggris untuk mempopulerkan pemikirannya dan sekaligus menghalangi semua gerakan yang ditujukan untuk menentang pahamnya. Bahkan Inggris membangun semacam universitas untuk mengembangkan ajaran ini.
Mirza Ghulam Ahmad meninggal pada tahun 1908.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar